Gak Cuma Buat Anak IT! Yuk Belajar "Berpikir Komputasional" Ala Jurusan APHP SMKN 1 Kedawung
Judul Postingan: Gak Cuma Buat Anak IT! Yuk Belajar "Berpikir Komputasional" Ala Jurusan APHP SMKN 1 Kedawung
Halo Sobat FebyImuts! 👋
Apa kabar semuanya? Semoga hari kalian semanis selai nanas buatan anak APHP ya! Hehe.
Hari ini aku mau ngajak kalian ngobrolin sesuatu yang kedengerannya "berat" dan "teknis" banget, yaitu Berpikir Komputasional (Computational Thinking). Eits, jangan kabur dulu! 🏃💨
Mentang-mentang ada kata "Komputasional", kalian pasti mikir ini cuma buat anak RPL atau TKJ kan? Big No! Konsep ini sebenernya adalah skill bertahan hidup yang wajib dimiliki siapa aja, termasuk kita-kita yang berkutat di dapur produksi Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian (APHP) di SMKN 1 Kedawung Sragen.
Singkatnya, Berpikir Komputasional itu adalah cara menyelesaikan masalah yang rumit dengan cara yang logis, bertahap, dan efektif. Persis kayak komputer mikir, tapi kita terapkan di kehidupan nyata.
Nah, di dunia Computational Thinking, ada 4 jurus jitu: Decomposition, Pattern Recognition, Abstraction, dan Algorithm Design.
Gimana sih penerapannya kalau kita lagi praktek di lab APHP SMKN 1 Kedawung? Yuk, kita bedah satu-satu sambil bayangin kita lagi bikin produk unggulan sekolah!
1. Decomposition (Penguraian Masalah) 🧩
Ini adalah seni memecah masalah "raksasa" menjadi potongan-potongan kecil yang lebih mudah dikunyah.
Analogi Sehari-hari:
Bayangin kamu disuruh makan burger tower yang tingginya 30 cm. Kalau dimakan langsung, mulut gak bakal muat. Solusinya? Copot rotinya dulu, makan dagingnya, baru sayurnya. Itu dekomposisi!
Contoh di Jurusan APHP:
Misalnya, kita dapat tugas "Membuat Roti Manis 500 Pcs untuk Pesanan Hajatan".
Kalau dipikirin langsung "bikin 500 roti", pasti pusing dan panik.
Kita pakai Decomposition:
Tahap 1: Hitung bahan baku (tepung, ragi, gula, telur) yang dibutuhkan.
Tahap 2: Persiapan alat (mixer, oven, loyang).
Tahap 3: Proses mixing adonan.
Tahap 4: Proses fermentasi (proofing).
Tahap 5: Pemanggangan (baking).
Tahap 6: Pengemasan (packaging).
Dengan memecahnya, tugas seram tadi jadi kelihatan lebih gampang dikerjakan, kan?
2. Pattern Recognition (Pengenalan Pola) 🔍
Ini adalah kemampuan melihat persamaan atau pola dari masalah yang pernah kita hadapi sebelumnya. Tujuannya biar kita nggak perlu mikir dari nol lagi.
Analogi Sehari-hari:
Kamu pasti tau kan kalau mendung gelap + angin kencang = bakal hujan? Itu karena kamu sudah mengenali polanya dari pengalaman sebelumnya. Jadi kamu siap-siap bawa payung.
Contoh di Jurusan APHP:
Pas lagi praktek bikin Yoghurt atau Tape, kita harus peka sama pola fermentasi.
Polanya: Kalau suhu ruangan di Sragen lagi panas banget, ragi tape atau bakteri yoghurt bakal kerja lebih cepat.
Penerapannya: "Wah, hari ini panas terik nih. Berarti waktu fermentasi jangan disamain kayak pas musim hujan kemarin. Harus dicek lebih awal biar nggak keasaman."
Nah, kemampuan mengenali "pola suhu vs waktu fermentasi" ini bikin produk kita selalu konsisten rasanya.
3. Abstraction (Abstraksi) 🙈
Ini teknik "tutup mata" pada hal-hal yang nggak penting, dan cuma fokus sama informasi inti yang kita butuhkan.
Analogi Sehari-hari:
Kalau kamu liat peta Google Maps dari SMKN 1 Kedawung ke Alun-alun Sragen, kamu cuma liat garis jalan kan? Kamu nggak dikasih tau ada berapa lubang di jalan atau warna cat rumah warga yang dilewatin. Kenapa? Karena info itu nggak penting buat tujuanmu sampai ke lokasi.
Contoh di Jurusan APHP:
Bayangin kita lagi bikin label kemasan untuk Keripik Jamur.
Yang difokuskan (Abstraksi): Nama produk, komposisi, tanggal kadaluarsa, logo Halal, PIRT, dan berat bersih.
Yang diabaikan: Kita nggak perlu nulis di label "Jamurnya dipetik oleh Pak Budi pakai baju warna merah jam 7 pagi".
Kita membuang detail yang nggak relevan supaya konsumen (dan kita) bisa fokus ke hal yang penting: kualitas dan keamanan produk.
4. Algorithm Design (Desain Algoritma) 📝
Ini dia puncaknya! Membuat langkah-langkah atau instruksi yang urut, jelas, dan detail supaya masalahnya selesai dan bisa diulang oleh orang lain dengan hasil yang sama.
Analogi Sehari-hari:
Resep Indomie di belakang bungkus itu algoritma, lho! 1. Rebus air, 2. Masukkan mie, 3. Tiriskan, dst. Kalau langkahnya dibalik (bumbunya direbus dulu baru airnya), rasanya pasti aneh.
Contoh di Jurusan APHP:
Di lab APHP, ini sering banget kita sebut sebagai SOP (Standard Operating Procedure). Contohnya algoritma menggunakan mesin Vacuum Frying buat bikin keripik buah:
Pastikan mesin bersih dan tersambung listrik.
Isi minyak goreng sesuai batas level.
Masukkan buah yang sudah dibekukan ke keranjang.
Tutup rapat tabung penggorengan.
Nyalakan pompa vakum sampai tekanan mencapai -60 cmHg.
Nyalakan kompor dengan suhu 85°C.
Dan seterusnya...
Kalau urutannya salah satu langkah aja, bisa-bisa keripiknya gosong atau malah mesinnya rusak. Algoritma memastikan siapa pun yang jaga mesin, hasil keripiknya tetap renyah!
Kesimpulan
Ternyata, anak APHP di SMKN 1 Kedawung itu diam-diam sudah jadi programmer, lho! Bedanya, kalau anak IT coding-nya pakai bahasa Java atau Python, kita coding-nya pakai tepung, buah, susu, dan mesin pengolahan. 🍞🥛
Dengan menerapkan Berpikir Komputasional, kita jadi lebih terstruktur, nggak gampang panik kalau ada gagal produksi, dan bisa kerja lebih efisien.
Gimana menurut kalian? Ada yang pernah sadar nggak kalau pas lagi masak di rumah sebenernya lagi pakai Computational Thinking?
Yuk, Ngobrol di Kolom Komentar! 👇
Coba kasih contoh penerapan Decomposition pas kalian lagi ngerjain tugas sekolah lain. Aku tunggu cerita kalian ya!
Jangan lupa juga buat kepo-in postingan lain di febyimuts.blogspot.com buat tips-tips seru seputar dunia SMK dan cerita sehari-hari lainnya. See you on the next post! Bye bye! 👋✨
Komentar
Posting Komentar